Sabtu, 15 Desember 2012

kehadiran sang rindu
















Apa kabar hatinya???
Masihkah berada dalam kebahagiaan…
Atau telah ada setitik noda yang telah mengganggumu???
Aku berharap kau tetapseperti biasa, tanpa bergeser seincipun dari tempaatmu semula…
Karena tetap beginilah aku…
Berdiri di atas kedua kakiku…
Walau telah lelah…
Tidak sedikit batu yang menimpa, tidak sedikit ranting yang menghalangi, tidak sedikit badai yang datang, tidak pula sedikit banjir yang melanda…
Terkadang badan terasa lelah…
Terkadang kaki terasa letih…
Terkadang hati terasa goyah…
Terkadang pula terasa bimbang…


















Cinta yang disampaikan dengan diam…
Rindu yang disampaikan dengan diam…
Segala hal yang disampaikan dengan diam…
Terkadang membuat sakit menyayat hati…
Tetapi terkadang membahagiakan…















Biarlah ia datang pada waktunya nanti…
Waktu yang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa…
Waktu yang paling terbaik untuk hamba yang dikehendakiNya…
Yang mana hanya terdapat hari yang membahagiakan, menyenangkan, menggembirakan, dan hanya ada seuntai senyum yang mengembang…
Senyum yang selama ini belum pernah berkembang…
Bahagia yang selama ini belum pernah terasakan…
Semua itu akan hadir disaat telah di pertemukan dengan seseorang..
Dengan adanya satu ikatan suci, yang di dukung dengan cinta, kasih sayang, dan keikhlasan…


















Tetapi jika waktu itu tak kunjung hadir kepada kita…
Janganlah merasa sakit dan putus asa…
Jika yang engkau idamkan tak kunjung datang…
Janganlah merasa sendiri….
Jika yang engkau idamkan bersama orang lain…
Yakinlah bahwa Allah memiliki jalan yang lebih indah untuk kita…
Bila didunia kita belum dapat bersua….
Yakinlah bahwa di syurga adalah tempat tinggal kita…
Tempat yang terbaik untuk perjumpaan kita…
Tempat yang suci….
Di mana orang hidup kekal didalamnya…
Dan diantaranya terdapat kita didalamnya…
AMIN……


Rabu, 18 April 2012

Entah Kapan Engkau Kembali




Entah Kapan Engkau Kembali

Angin semakin berhembus kencang, membuat suasana malam menjadi lebih mencengkam. Jalanan mulai sepi dan sunyi, para penduduk mulai menutup pintu dan jendela rumah, hewan-hewan mulai kembali ke persembunyian mereka  masing-masing untuk beristirahat. Dan kini hanya tersisa para penjaga ronda yang mangkal di pos ronda. mereka asyik ngobrol dan canda tawanya yang ditemani kopi panas  yang menambah kehangatan di antara hembusan angin malam. Mereka selalu bercerita yang diiringi senda gurau atau melakukan suatu hal yang membuat mereka lupa akan ngantuk dan tidur. Agar mereka tetap bisa untuk mengawasi lingkungan sekitar dan memastikan tidak ada suatu hal yang mencurigakan, dan mereka harus tetap waspada hingga fajar menyongsong dunia.

Waktu menunjukan jam 05.00 WIB, para penduduk mulai membuka pintu dan jendela, dan memulai mengerjakan aktifitas mereka masing-masing.  Hewanpun mulai keluar dari persembunnyian untuk mencari makan. burung-burung beterbangan menghiasi langit yang menambah indahnya suasana pagi, dengan sapaan sinar matahari yang memberi rasa tentram untuk seluruh isi alam.

Vina mulai mengayuh sepedanya menyusuri jalanan bebatuan, sambil bersiul menikmati perjalananya. Senyuman selalu menjadi urutan pertama di wajahnya, yang menandakan sebuah kebahagiaan.
Ciiiiiitttt…… rem sepeda vina berdecit, dan langsung ia sandarkan sepedanya di bawah pohon yang rindang.

 “sita…” seru vina didepan rumah sita
“ia… tunggu sebentar vin…” ungkap sita,
Buk sita pergi dulu ya… (sita meminta izin kepada ibunya sambil berlari menuju halaman depan rumah)
“ia… hati-hati di jalan nak” (balas ibu sita dengan suara berbisik, hampir tak terdengar)
“berangkat…” (ungkap sita sambil menggapai sepeda merah kesayangannya)
“yupz… lets go…” (balas vina dengan senyuman khasnya)

            Mereka saling mengayuh sepeda beriringan, dengan canda, tawa, dan gurauan yang selalu diikuti dengan senyum kebahagiaan yang menandakan kepuasan akan sesuatu. Mereka menuju suatu tempat yang telah mereka rencana sejak jauh-jauh hari, untuk mengisi hari libur dihari minggu. Mereka selalu menghabiskan hari libur bersama, dengan bermain bersama. Sita dan vina menjadi pasangan sahabat sejak mereka kecil, hingga kini kelas 2 SMA. Persahabatan mereka selalu dihiasi dengan berbagai perbedaan-perbedaan pendapat, keinginan, dan yang lainya. Yang menimbulkan pertengkaran atau percekcokan kecil antara mereka. Tetapi itu semua yang menjadikan semakin kuatnya ikatan pesahabatan antara mereka.
“eh vin nanti carikan aku bunga yang paling cantik ya…” (rayu sita)
“hem… maunya” (jawab vina dengan ketus)
“he…he… terimakasih ya vin…” (rayu sita kembali dengan senyuman ejekannya)
            Bruk… tiba-tiba suara benturan keras melintas di pendengarang yang berada di sekitar pusatnya suara berasal. Sita tertabrak motor dari arah berlawanan, yang tiba-tiba memotong jalan ke kanan dengan kecepatan yang sangat tinggi.

 “astagfirullah sita…” (berteriak vina sambil merebahkan sepeda yang ia kendarai)
Tak ada sesuatu hal yang vina lakukan kecuali hanya berdiri mematungkan diri, memandang sahabatnya terkapar bersimbah darah. Bingung, takut, cemas, menghantuinya sehingga membuat seluruh badannya membatu, sehingga ia tidak dapat menggerakan seluruh bagian tubuhnya. Semua orang berlari menuju kerumunan untuk melihat apa yang terjadi, kecuali vina yang tetap berdiri di tempat semula dengan raut wajah yang tak menentu.

            Dengan langkah yang tak pasti vina mulai mengayunkan kaki kanannya kedepan yang kemudian diikuti dengan kaki kirinya, ia berjalan pelan dengan tetesan air mata yang membasahi pipinya dan kakinya yang bergetar. Melintasi kerumunan orang-orang yang hanya melihat kejadian ini tanpa berbuat apapun. Badan vina roboh disamping tubuh sita yang tergeletak tanpa gerak, dan menambah isakan tangis vina yang semakin menjadi-jadi. Dengan rasa ragu ia peluk erat tubuh sita yang bersimbah darah tak bernyawa. Tak ada perasaan lain yang ia rasakan kecuali penyesalan akan keputusan untuk pergi menghabiskan waktu libur bersama dengan sita di sebuah taman bunga dipusat kota.

            Setelah kejadian itu, vina menjadi pendiam tanpa sedikitpun senyuman khas yang ia miliki. Ia seperti telah kehilangan sebagian dari kehidupanya. Perasaan penyesalan selalu menghantuinya kapanpun dan di manapun sehingga membuatnya kehilangan semangat untuk hari kedepan. Semua ini berawal dan  berakhir sejak kepergia sita, seseorang yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya. Kini ia baru merasakan betapa pentingnya akan kehadiran seorang sahabat dalam hidupnya. Dan betapa pedihnya akan kepergiannya.
                                                                                                            By: rha…